Feeds:
Posts
Comments

Posts Tagged ‘Penerbit Leutika’


gara gara fb015JUDUL BUKU: GARA-GARA FACEBOOK “KISAH-KISAH SERU PARA ‘FACEBOOKER’”

PENYUSUN / EDITOR: M. SOLAHUDIN, RIDHO ‘BUKAN’ RHOMA, HERY SP

PENERBIT: LEUTIKA PUBLISHER

ISBN: 978-302-8597-10-4

TEBAL: 188 HAL

UKURAN: 19 X 19CM

TAHUN TERBIT: NOVEMBER, 2009

HARGA: 30.000,-

DISTRIBUTOR TUNGGAL:

CV. DIANDRA PRIMAMITRA MEDIA

0274-871159, 021-8508801, 031-5928869, 088802844621, 088802844622, 088802844623, 088802844624.

Jl. Tasura 31, Pugeran, Maguwoharjo, Sleman, Yk 55282

Email: diandramitra@gmail.com

 

SEKILAS TENTANG BUKU:

Hampir semua orang yang mengenla internet juga memiliki Facebook yang berpenduduk hampir 200 juta dan merupakan Negara yang demokratis. Siapapun boleh bergabung menjadi warganya, dari anak kecil hingga orang tua, anak jalanan hingga professor, penganggura hingga komisaris perusahaan.

Mereka bisa menuangkan gagasan-gagasan cemerlang, luapan kesedihan dan kekecewaa, curhat, ngerjain teman dan main games asyik di Facebook. Kita tidak jarang melihat sesorang atau beberapa orang yang tertawa terbahak-bahak atau hanya sekedar tersenyu, depan computer, laptop atau blackberry. Bisa diduga bahkan hamper dipastikan mereka sedang membaca comment-comment dari teman-temannya di Facebook. Facebook telah menjadi media untuk menghibur diri, menghilangkan kejenuhan, bahkan juga menghabiskan waktu dengan sia-sia. Kita tidak jarang merasa “kecanduan” atau kehilangan sesuatu jika tidak ber-fesbuk ria.

Dari interaksi di dunia maya itu, timbullah berbagai tulisan yang patut kita baca. Cerita-cerita mereka terkadang lucu, gokil, dan aneh. Misalnya, Ahmaed Aminudin yang menceritakan kalau temennya menemukan dompetnya yang hilang di Facebook. Afit yang ketemu teman-teman SD-nya di Facebook setelah tidak diketahui rimbanya., di pecat gara-gara sering fasebuk-an saat kerja, hingga gembong narkoba di Florida yang dituntut hukuman 105 tahun penjara setelah tertangkap gara-gara facebook, serta segudang kisah-kisah yang lain. Semunaya disajikan dalam bahasa apa adanya tanpa mengalami banyak perubahan. Pembaca akan merasakan bahasa mereka yang mengalir adalah spontan, layaknya ketika menulis di wall atau ber-SMS.

So, tunggu apalagi, miliki segera buku kocak, gokil dan lucu ini..!!!

 

DAPATKAN BUKU INI DI TOKO BUKU TERDEKAT:

  1. GRAMEDIA
  2. GUNUNG AGUNG
  3. TOGA MAS
  4. UTAMA / BOOKS CITY
  5. SOCIAL AGENCY
  6. URANUS
  7. DLL

pemesanan:
085712906056 / 081229111727 / 0274 485222
email : diandramitra@gamil.com
diandra.online@yahoo.co.id
pesan

Advertisements

Read Full Post »


Santri Sableng017JUDUL BUKU: SANTRI SABLENG “SEBUAH CATATAN DARI BILIK PESANTREN”

PENERBIT: LEUTIKA PUBLISHER YOGYAKARTA

PENULIS: RIDHO AL-HAMDI

ISBN: 978-602-8597-08-1

UKURAN: 13 X 19 CM

TEBAL: 234 HAL

TAHUN TERBIT: OKTOBER, 2009

HARGA: 35.000,-

DISTRIBUTOR TUNGGAL:

CV. DIANDRA PRIMAMITRA MEDIA

0274-871159, 031-5928869, 021-8508801, 088802844621, 088802844622, 088802844623, 088802844624, 081578784085

Kata Pengantar
Prof. Dr. Abdul Munir Mulkhan, SU.
(Guru Besar Filsafat Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta)

Kata “santri” bukan sekadar kata yang bermakna tunggal. Sejak pertama kata itu muncul ke ruang publik, entah kapan, mungkin jauh sebelum kemerdekaan, orang pun memberi makna beragam. Ada yang positif, ada yang pejoratif, ada yang akademik, ada pula yang menunjuk sebuah tradisi.

Demikianlah Clifford Geertz mengangkat kata itu di belantara debat ilmiah. Di ruang-ruang kampus juga tak pelak dan kritik pernaknaan itu. Pejoratif, karena kata itu dipakai untuk melukiskan sebuah kultur yang dinisbatkan pada orang-orang ndesit (Jawa; Jogja) dengan cara berpakaian khas, gaya hidup unik, dan laku sosial-politik tersendiri. Positif, karena kata itu menunjukkan sebuah komitmen atas sejumlah nilai moral bersumber ajaran agama (Islam).

Tulisan dalam buku ini memakai kata “santri” secara agak berbeda dan debat ilmiah dan sosio-budaya tersebut di atas. Kata “santri” bagi si penulis dimaksudkan untuk menunjuk orang-orang yang selama beberapa waktu tinggal dan hidup di ruang-ruang pesantren dengan bilik-bilik beragam warna.

Ragam bilik pesantren itu pun tak kalah rumit dan perdebatan tentang maksud kata itu ketika dipakai seperti halnya kata “padepokan”. Belum lagi aliran pemikiran atas ideologis yang melatarbelakangi kehadiran dan kehidupan pesantren tersebut. Demikian pula model pembelajaran atau gaya mengajar sang guru atau yang di dunia pesantren disebut khusus sang kyai atau ustadz.

Dan bilik-bilik beragam dunia pesantren itulah Ridho A1-Hamdi mencoba menulis ulang rekaman hidupnya selama menjadi santni yang entah aliran apa, ideologi macam mana, gaya mengajar sang ustadz bagaimana, bisa diperdebatkan. Tapi, satu hal agar jelas, setelah berada di luar pesantren yang mendidiknya selama beberapa tahun, ía mencoba melihat kembali secara kritis. Sayang, agak sulit diperoleh pengakuan tentang apa yang didapat penulis sebagai santri selama tinggal di dunia pesantren. Boleh jadi, catatan kritisnya mi merupakan kilas balik apa yang ia peroleh selama ini dan bilik-bilik pesantren itu.

Secara kultural, kata “santri” dipakai untuk menunjuk fakta sosial keberagamaan orang-orang yang menyatakan memeluk agama Islam yang nampak lebih mentaati ketentuan-ketentuan ajaran agama itu. Kata ini juga dipakai untuk menunjuk fakta orang-orang yang mempelajari ilmu agama Islam di lembaga .yang disebut pesantren. Entah berapa lama, entah mukim atau ngalong, orang yang pernah tinggal di lembaga ini bisa disebut atau menyebut diri sebagai santri. Kata ini juga bisa dipakai untuk menunjuk seseorang yang menjadi pengikut seorang kyai atau ustadz.

Istilah santri di atas lebih bermakna politik ketika kata itu dipergunakan untuk memperbedakan sekelompok orang dengan kelompok lain yang sama-sama menyatakan memeluk agama Islam. Mereka yang secara kasat mata (batinnya gak tahu) terlihat lebih taat disebut dengan “santri” dan mereka yang kurang atau tidak taat diberi sebutan dengan kata “abangan”.

Makna inilah yang lazim dipakai ketika dalam kehidupan sehari-hari seseorang menyebut kata santri. Kata santri di dalam buku mi lebih dimaksudkan untuk menunjuk orang atau sekelompok orang yang belajar di pesantren. Kadang-kadang penulis juga menyebut kata santri untuk maksud seperti lazim dipakai oleh masyarakat publik di atas. Tapi, kata santri selalu berhubungan dengan sebuatan lembaga pendidikan tertua di nusantara ini yang dikenai dengan pesantren.

Kata pesantren dipakai untuk menunjuk suatu model ban dalam pembelajaran, yaitu suatu sistem tinggal bagi anak-anak ( yang belajar di sekolah atau madrasah di sebuah asrama yang dikelola oleh sekolah atau madrasah bersangkutan. Pesantren model baru ini merupakan gejala yang muncul sejak tahun l980-an dalam perkembangan sekolah umum dan madrasah. Sebaliknya juga pesantren model lama pada era yang sama mengembangkan model pembelajaran sekolah atau madrasah.

Catatan Ridho Al-Hamdi mi tentu merupakan satu catatan tentang bagaimana Ia menangkap, memahami dan merespon sistem pembelajaran pesantren. Tidak jelas batas antara pesantren dan sekolah atau madrasah. Dua istilah ini sekarang juga bisa dipakai untuk maksud yang sama ketika madrasah diartikan sebagai sekolah dengan ciri khusus. Demikian pula gaya mengajar atau mendidik sang guru atau ustadz dan kyai, sang senior atau lurah pondok, atau pengurus siswa, suasana kehidupan dan lingkungan fisik dan batin di dalamnya.

Tentu ada beragam cara bagi seorang santri atau siswa dalam menangkap suasana kampus atau pondok berikut segala macam ragam yang berkaitan dengannya Seribu santri atau siswa tentu akan melahirkan seribu ragam catatan tentang dunia pesantren atau sekolah dan madrasah dimana ia belajar dan bertinggal selama beberapa tahun. Tapi, itulah fakta batin yang dapat diungkap oleh si penulis dengan agak lebih rinci dan detail. Sayang, memang tidak dengan jelas dibedakan antara ruang pesantren dan ruang sekolah atau madrasah yang tentu berbeda walaupun di sisi lain kesatuan pesantren (asrama) dan bangku-bangku di ruang kelas itu telah membentuk suasana khas yang bagi penulis tak dapat dipisahkan.

Pembaca yang ingin tahu dalamnya pesantren tempat penulis ini pernah menimba ilmu, tulisan mi tentu bisa memberi sejumlah informasi. Bagi yang pernah sama-sama tinggal di pesantren yang sama atau di pesantren yang berbeda, tulisan ini mungkin merupakan sisi lain dan kehidupan seorang santri. Lebih penting bagi pembaca yang pernah nyantri dan pesantren yang sama atau berbeda untuk menulis catatan batin dan bilik-bilik pesantren guna memperkaya informasi dan dalam.

Buku Santri Sableng, Sebuah Catatan dan Bilik Pesantren mi penting juga dibaca para orang tua untuk bisa lebih memahami anak-anak mereka yang sejak lulus SD, kadang sejak usia SD sudah dikinim ke sekolah atau madrasah atau pesantren, jauh dan rumah mereka. Sejak itu, sebagian besar anak-anak mi tidak lagi kembali ke kampung atau numah dan keluarganya. Mereka, anak-anak mi, tidak lagi mempunyai pengalaman batin hidup dalam dunia keluarga, dunia kampung dalam suasana permainan anak-anak seusianya. Bagi pengelola pendidikan, khususnya pendidikan Islam, tulisan ini tentu penting dibaca untuk menyelami dunia batin anak-anak selama menjalani hidupnya di dunia pesantren, jauh dan rumah dan keluarga, jauh dan teman sebaya sekampung sepermainan, selama anak-anak itu menjalani kegiatan belajar-mengajar di madrasah atau sekolah.

DAPATKAN BUKU INI DI TOKO BUKU TERDEKAT:

  1. GRAMEDIA
  2. GUNUNG AGUNG
  3. TOGA MAS
  4. UTAMA / BOOKS CITY
  5. SOCIAL AGENCY
  6. URANUS
  7. DLL

pemesanan:
085712906056 / 081229111727 / 0274 485222
email : diandramitra@gamil.com
diandra.online@yahoo.co.id
pesan

Read Full Post »


Mukzijat LAPAR016JUDUL BUKU: MUKJIZAT LAPAR

PENULIS : IBNU ABI DUNYA

PENERBIT: LEUTIKA PUBLISHER YOGYAKARTA

ISBN: 978-602-8597-05-0

TEBAL: XXX + 76 HAL

UKURAN: 13 X 19 CM

TAHUN TERBIT: OKTOBER, 2009

HARGA: 22.000,-

DISTRIBUTOR TUNGGAL:

CV. DIANDRA PRIMAMITRA MEDIA

0274-871159, 021-8508801, 031-5928869, 088802844621, 088802844622, 088802844623, 088802844624

 

DAFTAR ISI:

PENNGANTAR PENERBIT

PENGANTAR MUHAQQIQ

KEHIDUPAN MUHAMMAD SAW

  1. Kesederhanaan Nabi Muhammad SAW
  2. Nabi Muhammad pun pernah lapar
  3. Nabi Muhammad tak pernah makan kenyang
  4. Cerita Nabi Muhammad, Abu Bakar, dan Umar yang sedang lapar
  5. Nabi Muhammad makan remukan roti
  6. Nabi Muhammad tidak menggunakan ayakan
  7. Nabi Muhammad menahan lapar menggunakan batu
  8. Nabi Muhammad hanya makan roti dan daging bersama orang banyak]
  9. Nabi Muhammad wafat dalam keadaan lapar

HADIST NABI MUHAMMAD TENTANG LAPAR

  1. Hanya sepertiga perut untuk makan
  2. Keyang di dunia, lapar di akhirat
  3. Menyedikitkan makanan, rumah bersinar
  4. Mulut orang berpuasa berbau kasturi
  5. Hak-hak bagi manusia
  6. Larangan berlebih-lebihan

KSEDERHANAAN PARA NABI, SAHABAT, TABI’IN DAN ORANG-0RANG TERDAHULU

  1. Nasehat Nabi Isa AS
  2. Nasehat dan kederhanaan Nabi Dawud AS
  3. Kesederhanaan Lukman Hakim kepada Anaknya
  4. Kesederhanaan Nabi Sulaiman AS
  5. Kesederhanaan Aisyah
  6. Kesederhanaan Abu Bakar Ash-Shiddiq
  7. Kesederhanaan Umar Ibnu Khathab
  8. Kesederhanaan Aliu Bin Abi Thalib
  9. Kesederhanaan Ibn Umar
  10. Kesederhanaan Ibrahim bin Adham
  11. Kesederhanaan Malik Bin Dinar
  12. Umar Bin Abdul Aziz tak butuh obat penambah nafsu makan
  13. Kesederhanaan Hasan dan Husain
  14. Kesederhanaan Hasan Basri
  15. Kesederhanaan Sufyan Ats-Tsauri
  16. Kesederhanaan Dawud Ath-Tha’i
  17. Hanya makan satu jenis
  18. Mengencangkan Pinggang
  19. Sehari makan sekali

MANFAAT PERUT LAPAR

  1. Orang-orang lapar akan terdepan di hari kiamat
  2. Orang lapar bercahaya di akhirat
  3. Lapar menajamkan pikiran
  4. Lapar simbul para Nabi
  5. Lapar menghilangkan takabur
  6. Lapar menjadkan hati lebih terang
  7. Lapar menyebabkan mata terjaga
  8. Lapar menyehatkan badan
  9. Lapar lebih dekat kepada Tuhan

BAHAYA PERUT KEYANG

  1. Hikmah tidak di perut yang kenyang
  2. Kenyang diu dunia, lapar di akhirat
  3. Kenyang bias membuat hati keras
  4. Kenyang akan cenderung mendorong maksiat
  5. Kenyang dekat dengan kematian
  6. Kenyang mendatangkan penyakit
  7. Kenyang menyebabkan bodoh
  8. Kenyang menimbulkan keresahan

PARA ULAMA BICARA TENTANG LAPAR

  1. Lapar di dunia, kenyang di akhirat
  2. Makan lebih di dulu di akhirat
  3. Masalah perutpun menjadi fitnah pertama manusia
  4. Tiga nasehat seorang dokter
  5. Ketika perut menjadi agama
  6. Banyak makan bias merubah pikiran
  7. Banyak makan menyebabkan rasa kantuk
  8. Banyak makan bias melemahkan badan
  9. Banyak makan seperti arak busuk
  10. Perut kenyang bukan tujuan hidup
  11. Perut yang meresahkan
  12. Sisa manakan menjadi banyak
  13. Dua lubang yang menghancurkan manusia
  14. Yang masuk sama denan yang keluar
  15. Isi perut bisa menjadi api
  16. Perutmu itu anjingmu
  17. Jangan seperti lembu
  18. Hina dan mulia karena perut
  19. Mengalahkan makan dan tidur
  20. Jangan menuruti hawa nafsu
  21. Makanan yang menguntungkan badan
  22. Berhenti makan sebelum kenyang
  23. Tidak makan malam, agar bisa shalat malam
  24. Tidak bersendawa
  25. Puasa sebagai tali keying

DAFTAR PUSTAKA

BIODATA PENULIS

DAPATKAN SEGERA BUKU INI DI TOKO BUKU TERDEKAT SEPERTI JARINGAN TB. GRAMEDIA,TB.  GUNUNG AGUNG, TB. TOGA MAS, TB. UTAMA DLL


pemesanan:
085712906056 / 081229111727 / 0274 485222
email : diandramitra@gamil.com
diandra.online@yahoo.co.id
pesan

Read Full Post »


Video Shoting045JUDUL BUKU: CARA CEPAT MENGUASAI VIDEO SHOOTING

PENULIS KUNDHI

ISBN: 978-979-19799-4-8

UKURAN: 21 X 14,5 CM

TEBAL: 136 HAL + VII

KATEGORI: KOMPUTER

HARGA: 31.000,-

PENERBIT: LEUTIKA YOGYAKARTA- 0274-880387

PERCETAKAN: GRAFINA MEDIACIPTA, CV.

DISTRIBUTOR TUNGGAL:

DIANDRA PRIMAMITRA MEDIA, CV.

Telp. 0274-871159, 081578784085

Email: diandramitra@gmail.com

Fb: http://facebook.com/diandradistributor

Blogs: https://diandrabooks.wordpress.com

SEBUAH KATA PENGANTAR:

Banyak peristiwa atau kejadian penting yang perlu diabadikan. Jika pada masa lalu orang hanya mengabadikannya dengan foto (gambar yang tidak bergerak), saat ini kita bias penyimpannya dalam bentuk film (gambar yang bergerak). Kalau biasanya kita menyaksikan film hanya di acara televisi atau kasetVCD/DVD, sekarang kita bias membuatnya sendiri. Alat untuk merekam atau mengabadikan gambar bergerak itu biasa disebut camcorder atau dikenal dengan nama handycam.

Sejalan dengan hal tersebut, usaha di bidang video shooting sedang mengalami booming. Sekarang masyarakat menjadi lebih sadar untuk mengabadikan momen-momen tertentu, seperti pernikahan, perayaan ulang tahun, wisuda dan acara lainnya. Disinilah peluang usaha terbuka lebar. Bagi anda yang berniat membuka bisnis mi, kepercayaan klien merupakan modal utama. Untuk meraih kepercayaan tersebut, diperlukan tehnik tersendiri.

Buku ini mengupas secara praktis bagaimana menggunakan camcoder atau handycam. Dalam buku ini, akan menemukan tips-tips atau kiat-kiat untuk merekam sebuah peristiwa, meliputi:

–         Cara pengambilan gambar di siang hari

–         Cara pengambilan gambar di malam hari

–         Menentukan sudut pengembilan gambar

–         Teknik pengambilan gambar diam di tempat

–         Teknik pengambilan gambar bergerak

–         Teknik pengambilan gambar satu kamera

–         Teknik pengambilan gambar dua kamera

–         Sikap pengambilan gambar

–         Editing video

–         Editing audio

–         Penambahn transisi

–         Pemberian efek

–         Penambahan title

–         Proses bakar

–         Program conveter

Buku ini cocok bagi pemula yang belajar merekam gambar, atau siapapun yang ingin mengenal lebih jauh tentang usaha video shooting.
BUKU BISA DI DAPATKAN DI:
1.
TOKO BUKU GRAMEDIA
2. TOKO BUKU GUNUNG AGUNG
3. TOKO BUKU TOGA MAS
4. TOKO BUKU UTAMA / BOOK CITY
5. TOKO BUKU LEKSIKA
6. TOKO BUKU BBC
7. TOKO BUKU KURNIA AGUNG
8. TOKO BUKU SOCIAL AGENCY
9. TOKO BUKU ANDI STAR
10. TOKO BUKU URANUS
11. DLL

pemesanan:
085712906056 / 081229111727 / 0274 485222
email : diandramitra@gamil.com
diandra.online@yahoo.co.id
pesan

Read Full Post »


Jogja Edan Bro!043JUDUL BUKU: JOGJA EDAN, BRO!

PENULIS: RIDHO “BUKAN” RHOMA

ISBN: 978-979-19799-7-9

UKURAN: 21 X 14,5 CM

TEBAL: 112 Hlm + ix

TEMA: CULTURE POP

HARGA: 30.000,-

DI TERBITKAN OLEH: LEUTIKA YOGYAKARTA

DI CETAK OLEH: GRAFINA MEDIACIPTA, CV.

DI DISTRIBUSIKAN OLEH: DIANDRA PRIMAMITRA MEDIA, CV.

Telp. 0274-871159, 081578784085, email: diandramitra@gmail.com, fb: http://facebook.com/diandradistributor

SEKEJAP TENTANG BUKU:

Dengan segala kerendahan hati, Alhamdulillah buku ini bisa hadir di hadapan pembaca semua. Tentu sebagian di antara kita masih memiliki anggapan, Jogja adalah kota pendidikan, kota yang memiliki ratusan lembaga ilmu pengetahuan. Profesor dan ilmuwan ada segudang.Tak sedikit tokoh nasional yang lahir dan Jogja. Toko-toko buku tersebar di setiap sudut kota. Berbondong-bondong orang dan desa datang ke kota ini. Keperluan mereka hanya satu: studi. Pendapat ini tidak salah, tapi tidak pula benar sepenuhnya.
Jogja juga kota pariwisata dan kerajinan khas lokal. Industri kreativitas musik muncul dan generasi mudanya. Kita tentu mengenal Sheila on 7, Jikustik, Shaggy Dog, Letto, dan Seventeen. Di pinggiran jalan di setiap sudut di kota Jogja dan sekitarnya merupakan pusat kerajinan tangan.
Kini, dalam buku ini penulis ingin menyajikan Jogja dan sisi lain, yang mungkin sebenarnya sebagian dan kita sudah pernah tahu atau pernah mengalaminya. Hanya saja cerita-cerita itu belum dilukiskan menjadi sebuah buku yang unik dan mampu menggambarkan “Jogja yang lain’. Tulisan-tulisan ini berdasarkan pengalaman pribadi penulis, pengalaman teman lalu diceritakan kepada penulis, dan sebagian pencarian data. Buku ini tidak seinvestigatif Jakarta Undercover karangan Moammar Emka. Tidak pula sefenomenal buku Sex in the Kost-nya lip Wijayanto. Apalagi penulis berlatarbelakang pesantren dan kuliah di kampus agama yang sedikit banyak tidak membawa pada pengalaman “unik” dan detail seperti milik Emka dan lip.

lsi buku ini tidak hanya memfokuskan pada dunia yang serba seks, tetapi lebih luas dan itu semua. Gaya penulisannya tidak terlalu serius, tetapi storytelling sekaligus sedikit gaul. Jadi, mudah dipahami dan bisa menjadi bacaan ringan di tengah-tengah kepenatan anda.

Ada 13 cerita yang dikisahkan. Tentunya ini hanya sebagian dan kejadian yang ada di Jogja. Penulis yakin, masih banyak cerita “edan” bahkan lebih edan yang luput dan pengamatan tetapi pembaca sering mengalaminya. Alangkah baiknya, jika cerita-cerita itu disampaikan kepada penulis sebagai pelengkap pada edisi selanjutnya.

Sembari dalam proses penulisan buku ml, ada beberapa tanggapan dan teman-teman.

“Mau nulls kayak Jakarta Undercover ya?”

“Kok yang ditulis cuma negatif-negatifnya aja sih?”

“Mirip kayak punyanya Mas lip itu nggak?”

“Kamu nggak takut kalau menjelek-jelekkan Jogja?”

“Jangan malah kayak nulls buku porno Iho…”

“mi bukan guide untuk yang itu-itu kan…???”

Dan seterusnya.

Tanggapan itu tidak langsung saya respon. Saya hanya mengiyakan saja. Sebuah kritikan atau masukan tidak harus ditolak atau dilawan. Itu bisa menjadi bahan renungan. Wajar, mereka belum membaca. Mungkin kesan lain bisa bermunculan setelah buku ini terbit. Alangkah baiknya kritikan itu langsung dialamatkan pada penulis. Hematnya, buku ini hanya menyajikan apa yang telah ada. Seperti hidangan di atas meja makan, ketika banyak orang memilih menu makanan yang itu-itu saja, penulis menawarkan menu lain yang nggak pernah disentuh padahal sudah ada di atas meja.

Rid ho “Bukan” Rhoma Wirobrajan,

Juni 2009

BUKU BISA DI DAPATKAN DI:

  1. TOKO BUKU GRAMEDIA
  2. TOKO BUKU GUNUNG AGUNG
  3. TOKO BUKU TOGA MAS
  4. TOKO BUKU UTAMA / BOOK CITY
  5. TOKO BUKU LEKSIKA
  6. TOKO BUKU BBC
  7. TOKO BUKU KURNIA AGUNG
  8. TOKO BUKU SOCIAL AGENCY
  9. TOKO BUKU ANDI STAR
  10. TOKO BUKU URANUS
  11. DLL

pemesanan:
085712906056 / 081229111727 / 0274 485222
email : diandramitra@gamil.com
diandra.online@yahoo.co.id
pesan

Read Full Post »


Perang Salib028Judul Buku     : Perang Salib & Kebangkitan Kembali Ekonomi Eropa

Penulis            : Dr. Ajat Sudrajat

ISBN               : 979-19799-3-6

Tebal               : 234 hal + iv

Ukuran            : 20,5 x 14,5 cm

Kategori         : Sejarah

Harga              : 45.000,-

Penerbit          : Leutika Yogyakarta -0274-880387

Distributor      : CV. DIANDRA PRIMAMITRA MEDIA

0274-871159, 081578784085, diandramitra@gmail.com

PENGANTAR

Dunia Islam dan Barat merupakan dua di antara peradaban dunia yang senantiasa menarik untuk diperhatikan. lnteraksi yang melibatkan kedua peradaban ml tidak habis-abisnya mengundang diskusi, sehingga minat untuk mengkajinya pun tidak pernah surut an berhenti. Salah satu di antara daya tarik mengapa kajian itu terus berlangsung adalah danya konflik yang seringkali mengiringi interaksi keduanya.

Secara garis besar, buku ini akan melihat kembali interaksi yang terjadi antara dunia Islam dengan Eropa Kristen, selama kurun waktu berlangsungnya Perang Salib dan implikasinya terhadap perkembangan ekonomi Eropa Kristen. Ketika Perang Salib sedang berlangsung, hubungan perdagangan yang terjadi antara dunia Islam dan Eropa Kristen ternyata tidak pernah berhenti. Hubungan perdagangan ini bahkan telah mengantarkan Eropa Kristen menuju kebangkitan kembali ekonominya.

Berdasarkan dua kenyataan yang kontras mi, yaitu konflik di satu pihak, dan kerjasama di pihak lain, maka kehadiran buku ini bertujuan untuk merekonstruksi interaksi dunia Islam dan Eropa. Melalui rekonstruksi ini, diharapkan akan lahir suatu horizon baru mengenai interaksi antara dunia Islam dan Barat, Yaitu suatu interaksi dalam pengertian yang lebih bersahabat.

Penafsiran kembali mengenal interaksi dunia Islam dan Barat ini diharapkan dapat membantu mengurangi atau jika mungkin menghilangkan rasangka dan kedua belah pihak meskipun untuk yang disebut terakhir sangat sulit terwujud. Penafsiran kembali ini diharapkan dapat menggantikan citra-citra yang dibangun secara timbal balik selama ini. Pendeknya, penafsiran kembali ini dapat menjadikan kedua belah pihak saling bersahabat dan peduli.

Untuk itu penafsiran terhadap interaksi dunia Islam dan Barat harus menghindari teori benturan peradaban seperti yang banyak dilakukan selama ini. Kekaisaran Bizantium dilawan oleh Khilafah Islamiyah, pemerintahan Islam di Spanyol dilawan oleh Kerajaan Kristen, dan Turki Usmani dilawan oleh Eropa. Dalam pengertian yang lebih umum, interaksi sosial, ekonomi, dan politik dunia Kristen Abad Pertengahan dihadapkan dengan dunia Islam. Padahal, demikian menurut Syafi’i Ma’arif, di sela-sela hubungan yang kontras antara dunia Islam dan Barat, tidak jarang kedua belah pihak telah menunjukkan sikap saling mengenal, saling belajar, dan saling memberi dan menerima.

DAPATKAN BUKU INI DI:

1. Toko Buku Gramedia
2. Toko Buku Gunung Agung
3. Toko Buku Utama
4. Toko Buku Karisma
5. Toko Buku Togas Mas
6. Toko Buku Social Agency
7. Toko Buku Uranus
8. dan Toko Buku Terdekat Anda.

pemesanan:
085712906056 / 081229111727 / 0274 485222
email : diandramitra@gamil.com
diandra.online@yahoo.co.id
pesan

Read Full Post »


Berhala Itu Bernama Budaya POP027Judul Buku: Berhala Itu Bernama Budaya Pop

Penulis: Ridho “Bukan” Rhoma

ISBN: 978-979-19799-2-4

Tebal: 92 hal + x

Ukuran: 21 x 14,5 cm

Harga: 27.500,-

Penerbit: Leutika Yogyakarta

Distributor Tunggal:

CV. DIANDRA PRIMAMITRA MEDIA

0274-871159, 081578784085, diandramedia@gmail.com

CUAP-CUAP PENULIS:

Pertama-tama dan yang paling utama serta tidak akan lama-lama. Para hadirin dan hadirat. Pak Amin dan Pak Amat. Baik yang sudah kawin maupun yang belom sunat. Juga para pembaca yang sukanya mangap (huwaaaa). Saya ingin mengucapkan sepatah, dua patah, hingga kata-kata saya bisa membuat goyang patah-patah. Annisa Bahar pun kalah, apalagi Inul dan yang sealiran darah, dalam sambutan ini. Kita dilarang begadang, begadang sih boleh saja, asal ada manfaatnya. Demikian kata ayah saya, Pak Haji “Bukan” Rhoma.

Gak berpanjang lebar. Karena kalau panjang-panjang kasian para ibu dan kalau lebar-lebar kasian para bapak. Halah, ngomong opo iki. Yups, singkat aja. Berbicara tentang budaya pop, maka tak lain kita sedang membicarakan tentang budaya yang sedang ngepop alias sedang in di sekitar kita. So, jelas banyak dong. Di tengah arus yang serba ngepop ini, tentu kita sadar bahwa kita telah dihipnotis oleh berbagai rayuan sehingga menghilangkan kesadaran kita sebagai manusia.

Kita jangan mau dikendalikan oleh budaya yang sebenarnya buatan manusia sendiri, sehingga terkadang kita menjadikannya  sebagai berhala baru yang disembah-sembah. Kita harus bangun dan dunia yang meninabobokan kita, dunia khayal yang memberikan mimpi-mimpi mbelgedes. Apa itu mimpi-mimpi mbelgedes? Semuanya ada di buku ini.

Karya ini dipersembahkan buat mereka yang suka memlototi tivi tanpa henti. Buat mereka yang suka maenan HP (dengan segala merknya). Buat mereka yang gandrung ngegame. Buat mereka yang suka nongkrong di mall and cafe (asal nggak di WC aja. Bau cing). Buat para cewek (khususnya) yang suka banget ama fesyen. Buat gadis-gadis yang suka bersolek dan berdandan abis akibat korban produk-produk kosmetik. Buat para user atau netters. Serta buat mereka yang doyan googling dan yang kecanduan ma facebook. Selamat berteman dengan berhala baru itu yaw…

Buku ini gado-gado. Ada kacang, tahu, wortel, tempe, dan telur. Satu porsi lima rebu, pesen gak? (hus, ngawur). Maksudnya, kadang lucu, wagu, ato serius buanget (tapi banyak seriusnya ding). So, buku mi terbuka untuk diapakan saja, asal jangan dibuang (kasian yang nulis, hi, hi, hi…). Dibaca keseluruhan (excelent). Dibaca beberapa bab saja (guuuuud). Hanya membaca daftar isi atau pengantarnya (sip wae lah, no comment). Atau sekedar membaca judul buku di sampulnya (monggo wes). Nggak ada yang melarang. Oh ya, thanks a lot buat Mas  Eko Prasetyo yang udah kasih kata pengantar.

Ridho”Bukan” Rhoma
Wirobrajan, akhir April 2009

Kata Pengantar:
Eko Prasetyo *)


Penyesalan untuk hal -hal yang kita lakukan bisa semakin berkurang dengan berlalunya waktu;penyesalan untuk hal-hal yang tidakkita lakukan itulah yang tidak bisa dihibur (Sdneyi Hans).

Dua gadis remaja menjemput saya. Dengan kendaraan Nissan Terrano mereka membawa saya ke sebuah panggung. Letaknya di muka halaman sekolah. Pagi itu mereka meminta saya untuk berbicara soal kuliah. Ini anak-anak yang sebentar lagi lulus. Semua anak kelas 3 SMU. Kaya, pintar, dan bersinar. Mereka memiliki segalanya. Sekolah yang komplit fasilitas. Orang tua yang tidak enggan mengeluarkan ongkos berapapun. Hari depan seakan mereka genggam erat. Mereka tahu tak ada yang bisa mengenyahkan mimpi yang sudah terajut rapi itu. Di muka panggung saya menyaksikan kampus-kampus yang mengiklankan diri. Kampus itu menjajakan diri untuk ditawar. Anak-anak manja, manis, dan segar itu saya lihat hanya mengintip sekadarnya. Stand kampus itu diisi dengan sebuah meja, penjaga, dan pajangan foto. Beberapa membawa majalah yang bersemangatkan pencarian siswa. Janggal, tak menarik dan mungkin juga tidak memikat. Kampus ini tak tahu kalau mereka kini berhadapan dengan generasi yang tak butuh janji. Anak-anak muda yang dipintarkan oleh google, dihibur dengan sajian film Twilght, dan dimanjakan oleh Mall. Sekolah, kampus, dan tempat ibadah seperti museum yang sesekali saja mereka kunjungi.
Sekolah seperti rumah yang mengekalkan kebiasaan. Tempat ibadah menjadi pelarian paling menyenangkan. Dan kampus hanya lahan untuk mematut diri. Ketiganya itu kini dengan mudah beradaptasi dengan tuntutan yang serba cepat, praktis, dan menyenangkan. Andai kita saksikan sekolah tampak kalau mereka begitu menjaga kenyamanan siswa. Beberapa sekolah menyediakan fasilitas dan kegiatan yang berlebihan. Pacuan kuda, konser musik, atau wisata ke luar negeri. Malahan ada kampus yang mendirikan restoran yang memuat semua masakan dunia. Begitu pula dengan tempat ibadah: pelatihan baca Qur’an singkat atau training sholat khusyu’ hingga menikah usia di. Kecepatan, kepraktisan, dan efisiensi adalah roh budaya pop. Budaya yang muncul dan rahim ekonomi neoliberalisme. Sebuah sistem yang amat memuja kemudaan, temuan baru dengan semangat siap pakai. Disana berlaku hukum: Apa yang kamu pakai akan menunjukkan dimana posisi kelasmu. Sama halnya dengan kredo yang bunyinya nyiyir: dimana kamu sekolah disanalah masa depanmu ditentukan.

Agaknya Ridho berada dalam pinggiran budaya in Sekolahnya saja di lAIN. Kampus yang kita tahu paras dan penampilan mahasiswanya. Merubah diri dengan nama UIN tak membuat kampus ini jadi magnet kaum muda borjuis, liberal, dan mapan. Pilihan mereka masih seputar: UI, ITB, UGM. Kemudian ia aktif di Ikatan Remaja Muhammadiyah yang kini berubah jadi 1PM. Sarang gerakan yang memang jauh lebih progresif, militan, dan mendobrak ketimbang organisasi sejenisnya, seperti: pramuka. Dan Ia bertempat tinggal di Yogyakarta. Kota yang dibanjiri oleh pelajar dan aktivitas modal. Di dekat kampus UIN bertengger mall-mall yang berlomba discount harga. Dikelilingi situasi itulah pembentukan identitas sosial begitu rentan. Kepemilikan memang jadi dasar identitas, di samping kemampuan bahasa dan kepemilikan simbol-simbol kultural. Ridho seperti anak muda Iainya, berusaha untuk menegaskan identitas sembari menggapai serta menegaskan posisi. Baik sebagai seorang sarjana, aktivis, maupun seorang pria. Buku ini salah satu cara dirinya menyatakan din.

Ditulis dengan bahasa renyah, segar, dan sederhana buku mi mengutarakan kegelisahan. Perjumpaannya dengan Handphone, Tivi, Game, Google, Cafe, Facebook, atau Chatting melalui internet adalah luapan pengalaman yang dimaknai dan ditafsirkan dalam benak posisi serta kepentingannya. Benaknya memendam rasa yang bercampur-campur: senang, kesal sekaligus mengejutkan. Ridho mungkin tak terlampau geram tapi menikmati sekaligus sedikit gelisah. Geliat itu yang beredar melalui tulisan-tulisannya. Ia membungkus semua yang dilihat dengan bahasa kesangsian yang polos, lugu, dan bersemangat bertanya. Ridho memang tak mengusut dan mana datangnya budaya pop, akarnya dan siapa, dan bekerja mengikuti logika macam apa. Yang dibayangkannya tetap sebuah gairah sekaligus gelisah. Kumandangnya dalam tiaptulisan hanya isyarat ringan dan tidak pedih. Ridho tak menemukan korban dan tertumbuk pada aparatus budaya pop. Ia hanya ingin mencoba kembali, memberi peningatan akan kekuatan sugestif budaya ini.

Agnesivitas budaya pop mi dilambangkan dengan energik oleh media. Kuasa media yang dengan mahir menciptakan kisah, tokoh sekaligus monumen tentang apa yang sudah mereka kerjakan. Landasan untuk berkuasanya budaya pop yang memang selalu berpatokan: cepat, dangkal, dan massal. Lihatlah film-film honor Indonesia yang tidak menakutkan tapi menguatirkan akal sehat. Sama halnya dengan semangat patriarki yang melandasi semua adegan sinetron. Seperti sebuah kota mati maka budaya pop menangguk massa potensial. Mereka pasrah, ikut, dan terendam di dalamnya. Mereka mempunyai umat yang muda, agresif, dan bergaya kota. Saksikan saja bagaimana potongan baju modis yang kini dikenakan oleh anak kota hingga pedusunan. Juga Indomaret dan Alfamart yang mengisi samping dan depan sawah. Atau pertumbuhan salon kecantikan yang memberi menu SPA hingga kiat membersihkan jerawat. Ringkasnya desa dan kota tak lagi dibedakan oleh tata rias tapi ‘derajat dan kedalaman’ eksploitasi kapital. Sebuah eksploitasi yang menggairahkan karena semua orang merasa dilibatkan dan ikut serta dalam pekan raya budaya pop ini.

Jika begitu maka tulisan ini jangan dihakimi sebaga ilmiah, feature, atau essai.Tulisan ini adalah bentuk perayaan itu sendiri. Ridho meski agak geram tapi juga begitu menikmati. Saksikan tulisannya tentang facebook. Jaring pertemanan yang sejarahnya begitu dikuasai melebihi. pengetahuannya tentang hari lahir RA Kartini. Begitu pula mengenai televisi. Budaya tonton yang sekarang ml hendak dimatikan. Semangat menarik karena IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) punya kampanye mengenai matikan TV. Karenanya tulisan mi adalah keterlibatani yang intens budaya pop. Diam-diam kita merayakan, mengamini, dan mencangkokkan diri kesana. Bukan sebuah kekeliruan.Tidak sesuatu yang sesat. Hanya itu salah satu kecanggihan budaya pop menusuk kita semua. Dan tampaknya kita selalu punya kesernpatan untuk mensiasati. Kita punya banyak ruang untuk menegoisasi. Ridho dalam tulisannya itu berusaha untuk mentoleransi sekaligus berusaha untuk melawan, mencari ruang, dan menggariskan peran yang bisa dilakukan.

Sebagal penutup, buku ini memang sangat unik dan menarik. Ridho seperti biasanya memprovokasi kita untuk percaya jika budaya pop bukan sesuatu yang ‘tamat’ begitu saja. Ada pergolakan, tankmenarik, dan semangat untuk tidak mau takiuk. Tulisan ini kemudian seperti sebuah perayaan kembati. Disegarkan ingatan kita atas lubang-lubang kepercayaan atas budaya pop. Kita tak bisa menghindar, tak mampu bersembunyi tapi bisa bersiasat. Karenanya tulisannya begitu mendidih. Walau agak ringan, lompatannya untuk menelaah benih-benih budaya pop telah menyadarkan kita akan ancamannya

Jadi, buku ini memang menarik untuk tidak sekadar dibaca, tapi menjadi renungan. Sebuah renungan yang akan membangunkan kita bahwa ‘nalar dan kesadaran’ kritis memang tak mudah ditidurkan begitu saja. Ridho memancing kita untuk mengusut keyakinan kita. Nyatanya hidup dalam budaya pop tak sekadar disiasati tapi juga butuh perlawanan tangguh. Ridho membeni bukti bagaimana budaya pop itu dihidupkan, dikhianatj, dan diterjang. Ia menjadi salah satu sosok muda yang berusaha untuk membaca dengan ‘tafsir baru’atas budaya pop. Selamat membaca.

Yogyakarta, 10 Mei 2009

Dapatkan Buku Ini di:

1. Toko Buku Gramedia
2. Toko Buku Gunung Agung
3. Toko Buku Utama
4. Toko Buku Karisma
5. Toko Buku Togas Mas
6. Toko Buku Social Agency
7. Toko Buku Uranus
8. dan Toko Buku Terdekat Anda.
pemesanan:
085712906056 / 081229111727 / 0274 485222
email : diandramitra@gamil.com
diandra.online@yahoo.co.id
pesan

Read Full Post »

Older Posts »

%d bloggers like this: